Budaya merupakan harta karun bangsa Indonesia yang amat sangat penting dan juga memiliki nilai ekonomi kreatif. Gerakan Sejuta Data Budaya digaungkan para pemerhati budaya guna menyelamatkan data data seni budaya yang dimiliki Indonesia. Budaya juga merupakan hal yang rentan punah dan diklaim bangsa lain. GSDB adalah inisiatif pengelolaan budaya Indonesia secara lebih baik dan terukur. Misinya secara khusus adalah memiliki perpustakaan digital budaya. Sejak 2008, peminat budaya dari Bandung FE Institute sudah mengumpulkan 20.000 data budaya dan harapannya ke depan terus bertambah.
Oleh karenanya, GSDB mengajak masyarakat Indonesia untuk berkontribusi memberikan data budaya lewat situs www.budaya-indonesia.org Pengunggahan data budaya pun semakin mudah setelah diciptakannya aplikasi GSDB di ponsel pintar.
Data budaya yang diunggah adalah seputar alat musik, cerita rakyat, kuliner, motif kain, musik dan lagu, naskah kuno dan prasasti, ornamen, pakaian tradisional, permainan tradisional, produk arsitektur, ritual, seni pertunjukkan, senjata dan alat perang, tarian, serta tata cara pengobatan.
Selain itu, upaya ini diharapkan dapat mendukung pengembangan ekonomi kreatif Indonesia yang diperkirakan dapat mencapai 300 triliun rupiah (hasil simulasi kasar). Selain melibatkan Komunitas Sobat Budaya di berbagai daerah, GSDB juga akan mengajak partisipasi publik secara umum melalui aplikasi crowdsourcing di smartphones serta melalui berbagai kampanye media. Pre-event Gerakan Sejuta Data Budaya adalah bentuk kegiatan memperkenalkan tentang Gerakan Sejuta Data Budaya, Sobat budaya dan applikasi info budaya tidak hanya disana saja, kita bisa saling sharing tentang budaya Indonesia bersama beberapa narasumber, melihat kesenian tari cipta Indonesia, dan beberapa workshop lainnya.
Sementara itu, setelah enam tahun didirikan, penelitian dari GSDB sudah memiliki manfaat secara nyata dalam penangkalan klaim budaya. Misalnya lagu “Rasa Sayange” yang pernah diklaim bangsa lain telah dapat dibuktikan secara metode ilmiah bahwa lagu tersebut asli berasal dari Ambon, Maluku.
Gerakan Sejuta Data Budaya